Dreams are renewable. No matter what our age or condition, there are still untapped possibilities within us and new beauty waiting to be born.

-Dale Turner-

Monday, March 12, 2018

WWL Jang Gen (2)

Dear gadis, siapapun engkau yang kan jadi pendamping anak lelakiku kelak.
Dengarkan ceritaku.
.
Hari ini, adalah hari kedelapan belas pria kecil ini belajar melepaskan diri dariku. Kau tidak akan mendengar tangisannya, yang pecah siang malam, juga di sela-sela nyenyak dan remukku. Kau tidak di sini ketika ia bertahan puluhan menit memperjuangkan yang menurutnya haknya. Ia yang akhirnya tertidur untuk usaha yang terkubur.
.
Ia bukan tidak mengerti. Ia paham apa yang hilang dan harus berakhir. 
Ia juga bukan keras kepala.
Ia hanya mencari tahu apa yang salah 
dari pengetahuan seumur hidupnya.
Ia bukan tidak patuh. 
Ia hanya ingin menemukan dengan caranya.
.
.
Laki-laki ini, adalah pejuang. Apakah kau tahu itu? Tapi, jangan kau tuntut ia hal yang melampauinya.
Laki-laki ini tidak mudah menyerah. Tapi kutahu ia akan membutuhkanmu tuk menaruh lelah.
.

Suatu saat, 
jika kau dengannya menghadapi hari seperti ini. Ketika semua yang ia mengerti ternyata salah, yang ia perjuangkan ditolak dunia, dan yang ia inginkan tak bisa didapatkan. Kuharap kau memeluknya, dan memberitahunya. Seberat apapun itu, untukmu dan dirinya, kalian akan menghadapinya bersama. Bersama, menangis dan merasa sakit. Biarkan ia mendengar lukamu, dan kau menatap lukanya. Temani ia, menyempurnakan takdirNya.
.
Kau harus tahu. Ada yang selalu mencintainya, Aku.

#parenthood 
#parenting 
#weaningwithlove 

#storytellingibun

Wednesday, February 28, 2018

WWL Jang Gen (1)

Aku tak akan melarangmu menangis. Menangislah. Tapi kau harus tahu, hatiku teriris.
.
Aku takkan melarangmu untuk marah. Marahlah. Tapi kau harus tahu, isakku membuncah.
.
Aku takkan melarangmu kesal padaku. Menjauhlah. Tapi kau harus tahu, seluruh aku tetap mencintaimu.
.
it hurts.


Tuesday, February 20, 2018

Surat Untuk Diri (2)

Mereka bilang, kau jelek. Hitam, pendek, dan kurus.
Mereka bilang, kau menyebalkan. Jutek, judes, dan galak. 
Bahkan mereka bercanda, kau adalah anak angkat.
.
Lewati masa puber, masuki masa kuliah, dan kau masih tidak mengerti. Kenapa mereka bicara seperti itu?
.
Mereka bilang kau pintar, tapi terlalu serius.
Mereka bilang kau keren, tapi sombong.
Mereka bilang kau peduli, tapi cengeng.
.
Lewati semua masa, dan kau semakin percaya. You are not worth it.
.
Kau kira mereka mendengar tangisanmu?
Kau kira mereka terjaga dalam pergulatan mimpi burukmu?
Kau kira mereka meraba retak di hatimu?
.
Monster itu milikmu. Dan kau heran, kenapa tak pernah bisa mengalahkannya?
.
Lepaskan tutup matamu, bukalah.
Turunkan tangan dari telingamu, bukalah.
.
Sudahkah lebih jelas?
.
Mereka berbicara tentang dirinya, bukan tentangmu. 
Ya, bicara pada apa yang ada di dirimu. 
Mungkin karena kau cermin yang mereka sembunyikan.
.
Untuk semua usahamu merobek diri,
Untuk semua perjuanganmu menambal diri,
Untuk semua bahagiamu menghiasnya,
Bersyukurlah.
.
You are worth it.
.
#SuratUntukFebruari2018
#EagerAdventure

#PecanduBuku
https://instagram.com/p/BfDJh77BxGe/

Wednesday, February 14, 2018

Surat Untuk Diri (1)

Dear Penyuka Senja.
Mereka tak dapat mendengar suara hatimu.
Mereka tak dapat melihat pikiranmu.
Mereka tak tahu.
.
Engkau dan Tuhanmu berbagi rahasia, dan kau tau itu cukup.
.
Kesungguhan tak butuh pujian.
Rasa tak butuh pengakuan.
Jujurlah, dan kau tau itu cukup.
.
Dear Penyayang Angin, terima kasih.
Untuk tak pernah kalah walau ingin menyerah.
Untuk tetap berdiri walau ingin pergi.
Untuk berani melepas walau ingin bergegas.
.
Engkau dan Tuhanmu berdagang, dan kau tau itu cukup.
.
Kau bertanya, apakah terlalu percaya diri jika meyakini Allah menyayangimu? Allah mungkin tersenyum. Kenapa kau bertanya tentang hati pada tiga dimensi?
.
Semoga, kau tak pernah berubah dalam prasangka baik.
Bertambah handal membuahkan syukur menjadi kelembutan.
Juga semakin kokoh menuai sabar menjadi kebijakan.
.
Dear Diri, kau cukup.
.
#SuratUntukFebruari2018
#EigerAdventure

#PecanduBuku

Monday, February 12, 2018

Kita Sebagai Hujan Yang Mengawal Harta Negara

Bayangkan suatu siang Anda diundang untuk menemui Presiden. Setelah berjabat tangan dan mengajak duduk, beliau lalu menyodorkan sebuah buku rekening sambil berkata, “Ini, ada uang sebesar 100 Milyar punyamu. Buang saja ya, atau mau kau ambil?”

Sebersit dorongan kepemilikan terasa menguasai ketika hendak menjawabnya. Walaupun baru bayangan saja, kok tidak tega untuk berkata “buang saja”? Tervisualisasi kebutuhan-kebutuhan hidup yang bisa dipenuhi dengan uang sebesar itu. Sekolah anak, makanan bergizi, rumah yang nyaman dan aman, dan masa tua yang damai. Tapi, bagaimana jika ternyata uang tersebut jatuh pada tangan yang salah? Dipakai berfoya-foya atau ditipu dan hilang semua? Harta, adalah sesuatu yang ingin kita jaga. Sudah susah payah diperoleh, masa mau dibuang begitu saja? Masa mau dititipkan ke orang-orang tak terpercaya?

Jika harta pribadi terasa berharga seperti itu, bagaimana dengan harta negara?

Setiap peluh yang kita keluarkan untuk bekerja, kita turut menyumbang uang untuk negara. Beli kebutuhan sehari-hari pun kita tak luput menyetorkan sejumlah uang untuk negara. Belanja baju, liburan, dan hiburan lain, sebagian kecilnya adalah untuk dikirimkan ke negara. Pajak kita, BUMN, BUMD dan ditambah aset-aset negara lainnya, itulah harta negara. Ada hak dan kewajiban kita disana.

Kebutuhan negara berbeda skala dengan kebutuhan pribadi kita. Pendidikan masyarakat, keamanan negeri, pasokan pangan nasional, infrastruktur, dan setumpuk pekerjaan besar lainnya butuh pengelolaan harta yang apik dan tepat sasaran agar Indonesia bisa terus bersaing dan memajukan kesejahteraan penduduknya tanpa terus bergantung pada hutang. Sudah seberapa sadar kita akan rasa kepemilikan terhadap harta negara ini?

Coba kita cek. Ketika kita mendengar ada oknum auditor BPK yang tertangkap tangan oleh KPK karena tindak korupsi, adakah perasaan sedih atau biasa saja? Mungkin, sebagian kita sudah kebas mendengar berita semacam itu. Jangan-jangan kita malah berpikir korupsi memang bagian dari Indonesia dan tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mengubahnya. Benar? Salah!

BPK atau Badan Pemeriksa Keuangan Negara adalah lembaga pemerintah independen yang bertugas mengaudit laporan keuangan lembaga negara di akhir tahun. Dengan audit ini diharapkan ada transparansi dan akuntabilitas keuangan di lembaga-lembaga milik negara. Ada tiga audit yang dilakukan BPK: yaitu audit laporan keuangan, audit kinerja, dan audit tujuan tertentu. Terhadap audit laporan keuangan, BPK akan memberikan empat opini yaitu: WTP (Wajar Tanpa Pengecualian), WDP (Wajar Dengan Pengecualian), Tidak Wajar, atau Tidak Menyatakan Pendapat. Jika BPK memberikan nilai WTP, artinya lembaga yang diaudit memiliki birokrasi yang benar, pemasukan dan pengeluarannya jelas rekam jejaknya. Belakangan kita tahu, bahwa opini WTP pun ternyata masih tidak menjamin lembaga yang diaudit tersebut bersih dari korupsi.

Walaupun ada beberapa berita tindakan menyimpang, namun BPK masih termasuk lembaga negara yang paling bersih dari korupsi. Berkat BPK, pada tahun 2017 negara terselamatkan dari kerugian sebesar 13,70 triliun rupiah. BPK juga turut serta menganalisa kinerja guru Indonesia yang belum optimal, dan efektivitas kebijakan-kebijakan lainnya. BPK telah menjalankan fungsinya dalam mewakili kita mengawasi penggunaan harta negara secara maksimal. Namun, tugas itu memang tidak mudah. Masyarakat perlu mendukung BPK kawal harta negara. Kita tak rela jika harta yang berharga harus dibuang terus pada orang-orang tak bertanggung jawab. 

Bagaimana caranya? Referensi kita tujukan pada hasil negara terbersih utama di dunia selama bertahun-tahun, yaitu Negara-negara Skandinavia: Denmark, Finlandia, Norwegia, dan Swedia. Bahwa keterlibatan masyarakat dan organisasi-organisasi di luar pemerintahan mendorong dibentuknya kebijakan-kebijakan tegas anti korupsi. Ada tiga kekuatan utama dari semuanya untuk menghalau korupsi, yaitu kesadaran masyarakattransparansi lembaga, dan independensi media.

1. Kesadaran masyarakat. Gerakan melawan korupsi sudah banyak dimulai sejak lama, misalnya dengan terbentuknya Indonesian Corruption Watch pada tahun 1998. Tapi pengawasan korupsi tidak cukup apabila masyarakat tidak turut serta mengurangi tindak korupsi. Korupsi selalu disebabkan oleh keinginan untuk jalan pintas. Ini merupakan siklus yang harus kita putus. Masyarakat perlu belajar untuk menghargai proses. Misal, jika kita butuh untuk mengurus suatu dokumen dan ternyata pengerjaannya membutuhkan waktu lama, tahan diri untuk mengambil "jalan belakang" yang dapat mempercepat proses. Alih-alih begitu, sedari awal kumpulkan data yang cukup tentang proses yang akan dilakukan dan siapkan semua dokumennya dengan lengkap. Informasi-informasi tersebut saat ini sudah lebih mudah ditemukan melalui internet. Pasang rentang waktu yang cukup dari pembuatan dokumen sampai deadline kebutuhan dokumen tersebut untuk menghindari suap. Kemudian apabila semuanya sudah berjalan sesuai prosedur, tahan untuk tidak memberikan uang terima kasih kepada personel lembaga tersebut. Walaupun kita mungkin sudah terbiasa memberi, hal ini perlu berhenti untuk menjaga profesionalitas lembaga.

2. Transparansi. Dengan adanya internet, lembaga-lembaga negara sudah memulai proses transparansi secara positif. Berbagai pendaftaran dan permintaan dokumen sekarang sudah bisa dilakukan online sehingga mengurangi birokrasi berlapis tak perlu yang dapat memicu suap menyuap. Masyarakat pun dapat terus menjadi bagian dari transparansi, yaitu dengan melaporkan apabila ada tindakan-tindakan menyimpang. Dengan adanya telepon genggam yang canggih, kita dapat merekam dan mengunggahnya di internet. Selain bisa melaporkan ketidakwajaran yang terdapat pada lembaga-lembaga negara, kita juga bisa menghukum sosial perusahaan atau lembaga yang terlibat korupsi. Bagi perusahaan yang sudah terbukti melakukan korupsi dengan pemerintah, masyarakat dapat melakukan boikot. 

3. Independensi media. Adanya kebutuhan pemilu, mendorong beberapa media menjadi tidak obyektif lagi dalam melaporkan keadaan. Dalam hal ini, masyarakat perlu diberi kesadaran untuk tidak mudah click bait judul-judul berita yang memprovokasi juga mengkroscek laporan-laporan media yang investigasinya bersumber tak jelas, misal sekedar dari pengamatan media sosial. Untuk menghindari pembentukan persepsi media, masyarakat sebaiknya didorong kembali untuk memperbanyak temu darat dan berdiskusi dengan sehat. Selepas turun sebagai Ibu Negara Amerika Serikat, Michelle Obama pernah berkata, "Jika kamu berada di suatu kumpulan yang kamu merasa nyaman untuk berbicara karena semua sependapat, berarti ada yang salah. Kita perlu berkumpul dengan orang-orang yang berbeda pandangan dan pendapat untuk memperkaya diri."

Sebagai masyarakat Indonesia yang memiliki jumlah besar, hal ini menjadi kekuatan kita. Walaupun tindakan-tindakan diatas tampak kecil, namun jika kita lakukan dengan disiplin pasti akan terasa dampaknya. Seperti air yang jika hanya setetes tampak tidak berdaya, namun ketika turun beramai-ramai sebagai hujan dapat menggerakkan pemerintah dan semua lapisan masyarakat untuk mencegah banjir, itulah yang akan kita lakukan demi mengawal harta negara.