Dreams are renewable. No matter what our age or condition, there are still untapped possibilities within us and new beauty waiting to be born.

-Dale Turner-

Monday, February 12, 2018

Kita Sebagai Hujan Yang Mengawal Harta Negara

Bayangkan suatu siang Anda diundang untuk menemui Presiden. Setelah berjabat tangan dan mengajak duduk, beliau lalu menyodorkan sebuah buku rekening sambil berkata, “Ini, ada uang sebesar 100 Milyar punyamu. Buang saja ya, atau mau kau ambil?”

Sebersit dorongan kepemilikan terasa menguasai ketika hendak menjawabnya. Walaupun baru bayangan saja, kok tidak tega untuk berkata “buang saja”? Tervisualisasi kebutuhan-kebutuhan hidup yang bisa dipenuhi dengan uang sebesar itu. Sekolah anak, makanan bergizi, rumah yang nyaman dan aman, dan masa tua yang damai. Tapi, bagaimana jika ternyata uang tersebut jatuh pada tangan yang salah? Dipakai berfoya-foya atau ditipu dan hilang semua? Harta, adalah sesuatu yang ingin kita jaga. Sudah susah payah diperoleh, masa mau dibuang begitu saja? Masa mau dititipkan ke orang-orang tak terpercaya?

Jika harta pribadi terasa berharga seperti itu, bagaimana dengan harta negara?

Setiap peluh yang kita keluarkan untuk bekerja, kita turut menyumbang uang untuk negara. Beli kebutuhan sehari-hari pun kita tak luput menyetorkan sejumlah uang untuk negara. Belanja baju, liburan, dan hiburan lain, sebagian kecilnya adalah untuk dikirimkan ke negara. Pajak kita, BUMN, BUMD dan ditambah aset-aset negara lainnya, itulah harta negara. Ada hak dan kewajiban kita disana.

Kebutuhan negara berbeda skala dengan kebutuhan pribadi kita. Pendidikan masyarakat, keamanan negeri, pasokan pangan nasional, infrastruktur, dan setumpuk pekerjaan besar lainnya butuh pengelolaan harta yang apik dan tepat sasaran agar Indonesia bisa terus bersaing dan memajukan kesejahteraan penduduknya tanpa terus bergantung pada hutang. Sudah seberapa sadar kita akan rasa kepemilikan terhadap harta negara ini?

Coba kita cek. Ketika kita mendengar ada oknum auditor BPK yang tertangkap tangan oleh KPK karena tindak korupsi, adakah perasaan sedih atau biasa saja? Mungkin, sebagian kita sudah kebas mendengar berita semacam itu. Jangan-jangan kita malah berpikir korupsi memang bagian dari Indonesia dan tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mengubahnya. Benar? Salah!

BPK atau Badan Pemeriksa Keuangan Negara adalah lembaga pemerintah independen yang bertugas mengaudit laporan keuangan lembaga negara di akhir tahun. Dengan audit ini diharapkan ada transparansi dan akuntabilitas keuangan di lembaga-lembaga milik negara. Ada tiga audit yang dilakukan BPK: yaitu audit laporan keuangan, audit kinerja, dan audit tujuan tertentu. Terhadap audit laporan keuangan, BPK akan memberikan empat opini yaitu: WTP (Wajar Tanpa Pengecualian), WDP (Wajar Dengan Pengecualian), Tidak Wajar, atau Tidak Menyatakan Pendapat. Jika BPK memberikan nilai WTP, artinya lembaga yang diaudit memiliki birokrasi yang benar, pemasukan dan pengeluarannya jelas rekam jejaknya. Belakangan kita tahu, bahwa opini WTP pun ternyata masih tidak menjamin lembaga yang diaudit tersebut bersih dari korupsi.

Walaupun ada beberapa berita tindakan menyimpang, namun BPK masih termasuk lembaga negara yang paling bersih dari korupsi. Berkat BPK, pada tahun 2017 negara terselamatkan dari kerugian sebesar 13,70 triliun rupiah. BPK juga turut serta menganalisa kinerja guru Indonesia yang belum optimal, dan efektivitas kebijakan-kebijakan lainnya. BPK telah menjalankan fungsinya dalam mewakili kita mengawasi penggunaan harta negara secara maksimal. Namun, tugas itu memang tidak mudah. Masyarakat perlu mendukung BPK kawal harta negara. Kita tak rela jika harta yang berharga harus dibuang terus pada orang-orang tak bertanggung jawab. 

Bagaimana caranya? Referensi kita tujukan pada hasil negara terbersih utama di dunia selama bertahun-tahun, yaitu Negara-negara Skandinavia: Denmark, Finlandia, Norwegia, dan Swedia. Bahwa keterlibatan masyarakat dan organisasi-organisasi di luar pemerintahan mendorong dibentuknya kebijakan-kebijakan tegas anti korupsi. Ada tiga kekuatan utama dari semuanya untuk menghalau korupsi, yaitu kesadaran masyarakattransparansi lembaga, dan independensi media.

1. Kesadaran masyarakat. Gerakan melawan korupsi sudah banyak dimulai sejak lama, misalnya dengan terbentuknya Indonesian Corruption Watch pada tahun 1998. Tapi pengawasan korupsi tidak cukup apabila masyarakat tidak turut serta mengurangi tindak korupsi. Korupsi selalu disebabkan oleh keinginan untuk jalan pintas. Ini merupakan siklus yang harus kita putus. Masyarakat perlu belajar untuk menghargai proses. Misal, jika kita butuh untuk mengurus suatu dokumen dan ternyata pengerjaannya membutuhkan waktu lama, tahan diri untuk mengambil "jalan belakang" yang dapat mempercepat proses. Alih-alih begitu, sedari awal kumpulkan data yang cukup tentang proses yang akan dilakukan dan siapkan semua dokumennya dengan lengkap. Informasi-informasi tersebut saat ini sudah lebih mudah ditemukan melalui internet. Pasang rentang waktu yang cukup dari pembuatan dokumen sampai deadline kebutuhan dokumen tersebut untuk menghindari suap. Kemudian apabila semuanya sudah berjalan sesuai prosedur, tahan untuk tidak memberikan uang terima kasih kepada personel lembaga tersebut. Walaupun kita mungkin sudah terbiasa memberi, hal ini perlu berhenti untuk menjaga profesionalitas lembaga.

2. Transparansi. Dengan adanya internet, lembaga-lembaga negara sudah memulai proses transparansi secara positif. Berbagai pendaftaran dan permintaan dokumen sekarang sudah bisa dilakukan online sehingga mengurangi birokrasi berlapis tak perlu yang dapat memicu suap menyuap. Masyarakat pun dapat terus menjadi bagian dari transparansi, yaitu dengan melaporkan apabila ada tindakan-tindakan menyimpang. Dengan adanya telepon genggam yang canggih, kita dapat merekam dan mengunggahnya di internet. Selain bisa melaporkan ketidakwajaran yang terdapat pada lembaga-lembaga negara, kita juga bisa menghukum sosial perusahaan atau lembaga yang terlibat korupsi. Bagi perusahaan yang sudah terbukti melakukan korupsi dengan pemerintah, masyarakat dapat melakukan boikot. 

3. Independensi media. Adanya kebutuhan pemilu, mendorong beberapa media menjadi tidak obyektif lagi dalam melaporkan keadaan. Dalam hal ini, masyarakat perlu diberi kesadaran untuk tidak mudah click bait judul-judul berita yang memprovokasi juga mengkroscek laporan-laporan media yang investigasinya bersumber tak jelas, misal sekedar dari pengamatan media sosial. Untuk menghindari pembentukan persepsi media, masyarakat sebaiknya didorong kembali untuk memperbanyak temu darat dan berdiskusi dengan sehat. Selepas turun sebagai Ibu Negara Amerika Serikat, Michelle Obama pernah berkata, "Jika kamu berada di suatu kumpulan yang kamu merasa nyaman untuk berbicara karena semua sependapat, berarti ada yang salah. Kita perlu berkumpul dengan orang-orang yang berbeda pandangan dan pendapat untuk memperkaya diri."

Sebagai masyarakat Indonesia yang memiliki jumlah besar, hal ini menjadi kekuatan kita. Walaupun tindakan-tindakan diatas tampak kecil, namun jika kita lakukan dengan disiplin pasti akan terasa dampaknya. Seperti air yang jika hanya setetes tampak tidak berdaya, namun ketika turun beramai-ramai sebagai hujan dapat menggerakkan pemerintah dan semua lapisan masyarakat untuk mencegah banjir, itulah yang akan kita lakukan demi mengawal harta negara.


Sunday, January 28, 2018

USIA

"Bap, mungkinkah seseorang wafat karena disebabkan hal lain? Misal, karena kekuatan mistis?" sebuah pertanyaan yang sebenarnya aku tau apa jawabannya, namun hanya ingin mendengar lagi dengan pasti.

"Usia, tidak ada satupun yang tahu kecuali Allah. Bahkan malaikat Izrail pun hanya tahu beberapa saat ketika ia akan mencabut nyawa orang tersebut." jawab ayahku.

Aku diam. Terbayang kembali olehku seperti apa saat-saat terakhir ibu mertua, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.

"Ibu lagi shalat maghrib di mushala sama Bude, " cerita Kakak Iparku, "Mereka ga berjamaah. Waktu Ibu sudah tahiyat akhir, Ibu salam ke kanan dan ke kiri, terus tiba-tiba ambruk ke pangkuan Bude dan ga sadar. Bude manggil-manggil Ibu, tapi gak ada jawaban. Semua lalu panik, dan dokter segera dipanggil. Dokter agak lama datangnya, dan waktu dia tiba, dokter menyatakan Ibu udah meninggal. Saat itu badannya masih hangat karena meninggalnya mendadak. Kata dokter, kematian seperti itu agak lama kaku dan dinginnya..."

Aku menghela nafas. Kisah Ibu meninggalkan dunia benar-benar membuatku merenung. Bagaimana mungkin seseorang yang sehat walafiat tidak ada riwayat sakit berat, bisa pergi begitu saja sebulan setelah kepergian adiknya yang sakit jantung? Dua hari setelah kami berpelukan dan berjanji bertemu lagi tahun mendatang?

Usia, pada Ibu benar-benar tampak sekedar kontrak untuk bernafas tanpa filosofi berat. 

Namun kita tahu, hal yang tampak sederhana tak pernah  sesederhana itu. Jika memang usia sudah ditentukan, tidak akan lebih awal dan tidak akan terlambat sedetik pun, aku membayangkan bahwa bisa jadi ada beberapa skenario yang mungkin terjadi pada Ibu jika keadaannya berbeda.

Kalau saja Ibu adalah orang yang senang jalan-jalan, mungkin jam tersebut ia sedang berjalan di trotoar, lalu tiba-tiba terjatuh. Kalau Ibu adalah orang yang senang memasak, mungkin jam tersebut ia tengah menunggui oven, lalu sesuatu yang tidak diinginkan terjadi di dapur. Kalau Ibu adalah orang yang senang berkebun, mungkin saja kami akan menemukannya di taman.

Ibu adalah ketiganya. Ia senang memasak, berkebun, juga berjalan kaki. Tapi diatas semua itu, Ibu adalah orang yang senang shalat di awal waktu. Setiap maghrib dan isya, Ibu akan berjamaah di mesjid. Subuh, dzuhur, dan ashar, walau jarang ke mesjid, selalu beliau tunggu datangnya waktu adzan dan beliau sambut panggilannya dengan segera. Kalau kami hendak pergi keluar 30-45 menit sebelum adzan, beliau akan melarang. “Nanti aja kalau udah solat, kenapa harus terburu-buru? Ga darurat kan?”

Tidak sekali dua kali saya melihat wajahnya kelelahan sehabis mengerjakan pekerjaan rumah, lalu bertanya,

“Ibu, udah istirahat, tidur siang?”

Ia akan menjawab dengan senyum, “Tadi udah rebahan. Sebentar lagi adzan, tanggung kalau tidur.” kemudian ia berjalan ke kamar mandi untuk menyegarkan diri dan mengambil wudhu.

Setiap hari setengah jam sebelum adzan maghrib, beliau akan bergegas mandi, agar ketika adzan beliau sudah siap untuk shalat lalu langsung berangkat menuju mesjid. Setiap kali shalat, Ibu selalu tampak khusyuk tidak terburu-buru. Gerakannya tenang, bahkan walau beberapa kali saya lihat tiba-tiba ada tamu mencarinya. Sebulan terakhir usianya, Ibu tampak lebih memilih membiarkan tamu tak diundangnya menunggu, daripada meringkaskan shalatnya. Dan tamu-tamunya pun ternyata tak ada yang keberatan.


Kalimat terakhir yang diucapkan Ibu pada anaknya, adalah untuk anak bungsunya, adik ipar, yang mengantarkannya ke rumah saudaranya, “Tunggu dulu shalat jumat selesai, baru pulang" ucapnya. Tidak ada pesan khusus, atau amanat. Tak ada kila-kila atau kesan tersirat. Hanya pesan sederhana yang tak bosan diucapkannya setiap saat pada anak-anaknya: utamakan shalat, baru lakukan kegiatan lain.

Jika memang usia sudah ditentukan, tidak akan lebih awal dan tidak akan terlambat sedetik pun dan jika Ibu adalah orang yang penunda shalat, bisa saja Ibu dipanggil ketika beliau sedang mengunyah makanan atau berada di kamar mandi. Namun, sedemikian sempurnanya Ibu dalam menunaikan shalat, dari mulai wudhu, berdiri menghadap kiblat, khusyuknya membaca alfatihah, bacaan surat pendek, ruku, panjang waktu sujud, dan semuanya. Begitu tepatnya keseluruhannya selesai dengan habisnya usia beliau di dunia. Seselesainya memberi salam, malaikat menjemputnya...

MasyaAllah. Subhanallah.
Aku tahu, sungguh bukan tentang berapa lama Ibu berdiri atau berapa menit memakai mukena di saat-saat terakhirnya sebenarnya yang membawa kaparipurnaan ujung usianya seperti itu. Namun tentang bagaimana beliau melakukan kebiasaan tersebut seumur hidupnya. Hal yang menjadi bagian dirinya puluhan tahun. Akhir nafas beliau, hanyalah sebuah kesimpulan. 

Tak perlu sebab khusus bagi Allah untuk memanggil kita kembali, kita akan dipanggil saat sedang melakukan hal yang penting menurut kita.


 





wallahu a'lam bishawab

Wednesday, January 10, 2018

Islam atau Muhammad yang sebetulnya hebat?


"Astrid, beginikah orang-orang beragama Islam memperlakukan teman sesama Muslim? mempermalukan dan mentertawakan?"

Aku terdiam.

"Apakah perlu agama untuk seorang manusia bisa bicara yang baik?"

"Mungkin.. ajaran Islam belum merasuk sempurna pada kami yang berperilaku kurang baik."

"Kenapa kau pikir begitu?"

"Karena kalau sudah mengimani sempurna ajaran ini, muslim akan berakhlak seperti Rasulullah."

"Muhammad maksudmu? Bukankah dia sudah berakhlak baik sebelum masuk Islam? Ia yang digelari Al Amin kan? Orang yang jujur dan terpercaya. Ha! Sebenarnya Islam yang sempurna atau Muhammad yang sempurna sehingga Islam menjadi terlihat baik?"

Aku kembali diam.

"Lagipula, lihatlah. Yang berkata semenyakitkan itu adalah pastor dalam agamamu. Apa namanya? Pendakwah, penyebar ajaran Islam. Lalu, kelakuannya didukung pendakwah lain. Artinya, apa yg mereka lakukan jadi pengajaran untuk orang-orang muslim kan?  Bahwa boleh -bahkan perlu- berperilaku seperti itu?"

Aku menghela nafas. "Mungkin.. para pendakwah itu berbeda tafsir..."

"Tafsir? Ada ajaran agamamu yg memperbolehkan body shaming?"

"Bukan begitu. Tapi mungkin...berbeda tafsir dalam tindakan mengarahkan seseorang agar kembali ke jalan yang benar..."

"...yaitu dengan mempermalukannya."

"Just to make it clear. Saya tidak setuju dengan sikap pendakwah itu ataupun mereka yang tertawa."

"Oh, jadi dalam agamamu boleh setuju dan tidak setuju?"

"Iya dong."

"Jadi kalian tidak punya nilai yang sama?"

"Agama ini, mengizinkan setiap orang berproses. Itu yang saya yakini. Seperti halnya saya tidak setuju mereka menjudge tokoh yg sedang berproses, saya juga tidak akan menjudge siapapun, bahkan level ustad atau pendakwah, yang menurut saya masih berproses menjalankan kesempurnaan Islam."

"Karena menurutmu di ujung proses itu harusnya semua bersikap dan berakhlak baik"

"Ya"

"Seperti Muhammad...yang sebenarnya sudah berakhlak baik bahkan sebelum Islam turun."

"Well, bukan cuma Muhammad yang menjadi contoh kebaikan Islam. Para sahabatnya waktu itu, banyak yg semula kejam atau buruk, jadi baik setelah memeluk Islam. Dan ketika Islam berjaya, semua negeri makmur."

"Makmur? Maksudmu ketika orang kaya bisa berfoya-foya dan orang miskin kelaparan ketika wilayah kekuasaan Islam menyebar sampai ke..."

"Kamu ambil contoh yang mana? Lihat Islam jaman kekhalifahan pertama dan kedua dong..."

"Zaman Abu Bakar dan Umar? Kalau dua contoh saja, kembali aku akan bertanya. Mereka yang jago memimpin, atau Islam yang memang bagus untuk diajukan acuan memimpin?"

"Islam dong yang bagusnya. Karena dua khalifah pertama mengaplikasikan ajaran Islam yang dibawa nabi Muhammad sampai tercipta kemakmuran di Bumi Islam"

"Dan khalifah-khalifah setelahnya tidak? Berarti Islam susah diaplikasikan, hingga sampai saat ini juga?"

"Susah diaplikasikan, kau bisa bilang begitu, kalau diartikan Islam menyuruh untuk melawan hawa nafsu sendiri dan berlaku adil pada makhluk lain. Berat kan mengubah diri sendiri? Apalagi mengubah suatu negara. Begini saja, bagaimana kalau kau belajar Islam saja secara langsung? Jangan menjudge agama ini dari para muslim nya?"

"Ok. Belajar ke siapa? Ke Pendakwah yang menakut-nakuti penghinaan jika aku tidak mengerti? Atau belajar ke ahli kitabmu yang dikecam sana-sini karena tuduhan ini itu?" ia menatap tajam ke mataku, "Astrid, Islam benar-benar membuatku bingung."

#######################################################################

​Sahabatku tertawa, mendengar penuturanku.
"Kau tidak bisa menjawabnya lagi?" tanyanya masih terkekeh kecil.

Aku mengangkat bahu. "Jawabanku banyak sebenarnya. Tapi aku tahu, yang akan aku bicarakan hanyalah kalimat-kalimat pertahanan dan pembelaan. Hasil dari yang diajarkan padaku selama ini. Itu akan percuma padanya, yang kurasa sedang mencari esensi."

"Darimana kau tahu dia sedalam itu? Bisa jadi dia cuma nyinyir doang."

"Karena ia gelisah dalam pertanyaan-pertanyaannya. Dan kurasa, kegelisahan itu modal awal yang bagus ketika seseorang mencari kebenaran."

Dia menatapku. "Dan sekarang, kau gelisah juga."

"Ho oh. Sebuah pertanyaannya menghentak ketika ia membandingkan Islam atau Muhammad." aku menggaruk kepalaku yang mendadak gatal. "Menurutku, kadang kita sedemikian terdoktrinnya akan Islam sebagai hal yang pasti baik. Gimanapun, dan apapun. Lupa, bahwa nabi Muhammad saw sungguh memiliki skill dan kemampuan hebat sendiri. Jangan-jangan, sebenarnya Islam terlihat baik dan sempurna karena Muhammad nya yang memang sudah terkenal jujur, terpercaya, dan mulia. Gimana, kalau misalnya, bukan Islam yang membuat kedamaian dan kemakmuran, tapi Muhammad  lah yang membuat itu terjadi dengan kecerdasan dan kebaikan akhlaknya?"

"Hmm..." ia hanya menatapku penuh perhatian.

"Aku tau, kalau Allah pasti yang membimbing beliau" aku menambahkan, melihat ekspresinya. "Aku tak ragu tentang campur tangan dan kuasa Allah. Yang aku menjadi tak yakin, mana yang sebetulnya hebat: Islam atau Muhammad?"

"Hmm..." lagi-lagi dia hanya bergumam ringan.

"Eh..."

"Eh?"

"Kayanya ada yang ngaco, tapi aku bingung dimana. Haha."

Ia tersenyum. "Kamu terjebak di kata hebat, baik, atau apapun itu. Coba mundur lagi. Apa yang kamu maksud dengan hebat?"


Aku menatapnya. Semakin banyak pertanyaan. Allah. Islam. Muhammad. Bagaimana mengaitkan ketiganya? Pikiranku segera berlari kesana-kemari, menalikan pemahaman satu demi satu yang tersebar sering waktu. 



"Untuk apa kita memilih Islam?" ia bertanya lagi, membantuku menemukan simpul. "Kurasa kau pernah menjawab pertanyaan yang ini beberapa tahun yang lalu."

Aku mengangguk. 

"Waktu itu jawabanmu adalah: Karena Islam menunjukkan jalan tercepat pada manusia untuk menjadi dirinya yang terbaik."

Aku mengangguk lagi.

"Kenapa bisa begitu, memang apa kekuatan Islam?" 

"Islam itu tauhid." jawabku cepat, "'Tiada Illah selain Allah'. Illah bukan sekedar Tuhan, tapi sesuatu yang didahulukan, yang menjadi dasar setiap keputusan. Keimanan tersebut menjadi kekuatan. Ketika manusia mendahulukan Allah sebelum perasaannya, emosinya, egonya, logikanya, kenyamanannya, dan nafsunya, manusia bisa menjadi dirinya yang terbaik."

"Why?"

"Karena sesungguhnya manusia banyak tertipu oleh otaknya sendiri. Si otak yang selalu mengolah data yang dicerna menjadi beberapa opsi, namun hanya bisa melihat tiga dimensi. Maka keputusan-keputusan yang disodorkan hanya sebatas yang bisa dibaca panca indra. Otak jadi pengatur perilaku manusia. Padahal ia seharusnya sekedar alat. Lalu diperparah dengan hadirnya hawa nafsu. Ia mendorong kita melakukan hal-hal diluar kebutuhan, yang dikira akan memberi kepuasan. Padahal harusnya hawa nafsu juga sekedar alat, untuk mendorong kita bertahan hidup. Dengan tauhid, luntur dua dominasi tersebut. Dan ternyata, ada ruh di dalam setiap manusia yang membawa sifat-sifat kebaikan Allah. Ruh itulah yang lantas membuat manusia menjadi sosok yang pengasih dan adil rahmatan lil alamin "

"Hmm. Jadi, Muhammad atau Islam yang baik?"

"Muhammad yang memang sudah baik sedari awal, menjadi manusia terbaik ketika perenungannya di gua hira mengantarkannya mengenal Allah dan tuntunanNya untuk selalu tauhid, yaitu Islam."

"Nah."

"Nah." aku tersenyum. 

"Jadi kita kembali tau apa yang terpenting."

"Allah." jawabku. "Harus Allah yang dituju, Islam mengajarkan caranya, dan Muhammad sebagai teladan." aku tertawa. "Terdengar retoris sekali. Aku sering membaca kesimpulan itu di setiap buku agama di sekolah."

Ia nyengir. "Sebuah pernyataan yang sekedar dibaca atau dipahami, bobotnya selalu berbeda"

"Dulu kukira tauhid yang terpenting adalah dalam qalbu. Tapi ternyata tidak. Dunia sangat menyibukkan, sehingga tanpa maintance, hati kita akan jauh. Otak yang mendominasi. Kita berkata tauhid, tapi sikap kita tidak."

Ia mengangkat bahu, "Jika berlian adalah pohon, lalu orang berpikir dengan memiliki benihnya di tanah ia sudah kaya, maka ia membodohi dirinya sendiri bukan? Bahkan benih pun perlu beberapa unsur secara rutin untuk bisa tumbuh dan berbuah."

"Kedisiplinan, untuk memekarkan benih.... Ternyata itu makna shalat lima waktu dan ajaran-ajaran kuantitas lainnya." ujarku lirih. Sebuah kelegaan mengisi pikiranku. Tapi sebuah kerinduan mendadak merasuk, mendorongku ingin menangis.

"Ada apa? kenapa kau malah tampak bersedih?"

"Muhammad. Aku tak pernah sadar, betapa manusiawinya beliau. Aku kira karena Allah, beliau menjadi cemerlang. Seperti makhluk yang disinari kekuatan alien dari atas ufo, Muhammad adalah manusia spesial. Ternyata ia adalah manusia biasa. Langkah-langkah beliau dibuatnya sedemikian mudah untuk bisa dipelajari  dan diulang oleh siapapun manusia sampai akhir zaman. Kita hanya perlu mempelajari ilmunya..."

"Sebagaimana yang Allah katakan pada surat Ar Rahman kan?"

Kami bersitatap. Ah, ingin sekali bisa bertemu Rasulullah sekarang.




Wallahu a'lam bishawab.


Saturday, November 11, 2017

Selamat Jalan, Ibu..

Mungkin saya tak pernah benar-benar tahu arti kehilangan seseorang selama 31 tahun hidup di bumi. Ya, saya pernah kehilangan beberapa anggota keluarga besar. Menyedihkan. Tapi hanya itu. Saya tetap memiliki keluarga-keluarga inti yang hangat.

Ibu. Mertua satu-satunya. Usianya sama persis dengan ayah saya, hanya berbeda 2 minggu. Wanita yang banyak saya kagumi tentangnya. Kesabarannya, ketangguhannya, keterampilannya dalam pekerjaan rumah tangga, dan kehebatannya mendidik anak-anaknya dari kabupaten kecil di Jawa Timur bernama Ponorogo. Ibu mungkin tidak bergelar tinggi, tapi jelas bagi siapapun yang mengenalnya betapa cerdasnya beliau, dan betapa jauh visinya.
Melalui dirinya, kini pertama kalinya saya mengenal rasa kehilangan. Yang bukan hanya menyedihkan, tapi juga sangat menyakitkan. 1,5 bulan baru saja kami habiskan bersama, dalam kehangatan. Menorehkan syukur mendalam dalam perasaan betapa beruntungnya saya dikaruniai mertua seperti beliau.
Kemudian ia pergi. Jauh..
Kepulangannya yang indah bertemu Allah, menampar kami yang ditinggalkan. Tanpa jatuh sakit, tanpa pesan, dan dalam keadaan menghadapNya. Seakan tugasnya telah selesai dan ia pergi begitu saja dalam episode kehidupan. Tak ada wasiat, tanpa pesan. Menyusuri episode lain yang abadi. Memberi tahu kami, betapa fananya dunia. Usia hanya hitungan manusia.

Tak terbayang betapa terkejutnya kami. Anak-anaknya.
Tak terbayang betapa pedihnya, berpisah tanpa ucapan selamat tinggal.
Tak terbayang betapa besarnya penyesalan, ketika upaya membahagiakan belum purna. Semua rencana-rencana berhenti begitu saja karena pemeran utama telah mengundurkan diri.
Hati ini sakit sekali.


Tapi tiap kali kami mengingat... Allah berkehendak memeluknya secara langsung ketika ia tengah menghadapNya di Bumi, hati kami tenang. Tenang dalam keyakinan Ibu telah bahagia. Berada di dekat Allah, dan mungkin sudah bersama Papih tersayang. Tak ada rasa lelah lagi yang harus ia tanggung. Meninggalkan standar sangat tinggi bagi kami anak-anaknya seperti apa seharusnya meninggalkan dunia ini.
Ibu.
Penyesalan yang menggelayut dalam diri ini, mungkin takkan pernah bisa dihapus. Sesal atas kesempatan berbakti yang belum maksimal padamu. Sesal karena belim melakukan apa-apa untuk membalas kebaikan dan keikhlasanmu mengurus kami. 
Berat rasanya.

Ibu.
Rindu sekali. Padahal baru 24 jam kau pergi. Semoga kita bisa bertemu lagi, Bu.
Innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun. 10 November 2017.

Friday, March 31, 2017

Berharap Punya Anak Saleh/ah

Dulu, saya sering gerah kalau mendengar seseorang berkata, "Anak itu tabungan kita. Kalau anak soleh, dia yang akan mendoakan kita terus menerus ketika sudah mati."
Saya pikir, egois sekali pemikiran itu. Masa membesarkan seorang anak demi kepentingan diri sendiri? Saya waktu itu berjanji, kalau saya punya anak, saya tidak akan berharap balasan apapun darinya. Biarlah ia soleh memang untuk keselamatan dirinya, bukan untuk saya.
Sampai, saya membesarkan seorang anak batita yang sudah mengenal emosi dan tahu bagaimana menggunakan logika dan kata-kata. Baru juga usia batita. Dan seringkali saya sudah harus menarik nafas sedalam jarak tanah pijakan ke pusat bumi atau tiba-tiba menulikan telinga seolah sedang di ruang vakum luar angkasa sendirian. Demi tetap sadar diri dan tidak mengaktifkan tombol emosi yang sedang dimainkan si bocah dengan cerdasnya.
Saat itulah saya sadar, apa maksud kalimat-kalimat yang saya dengar dulu. Mungkin, sebenarnya bukan minta didoakan oleh si anak. Tapi lebih kepada membujuk Tuhan agar kesabaran saat ini diganti kemudahan di masa depan. Agar apa yang diperjuangkan saat ini kelak berbuah legit. Karena tanpa harapan 'demi sesuatu yang lebih baik nanti', mudah sekali terdorong untuk mengikuti emosi jadi selevel bocah. 
Atau mungkin juga, maksud doa itu adalah... agar supaya anak-anak dalam pengasuhan ini tetap tumbuh sempurna lahir batinnya meski dalam perjalanan mereka menapaki usia banyak mengalami ketidakadilan dari ibu yang ternyata payah ini :,( 
Atau berdoa tetap dijaga oleh Allah, baik anak-anaknya ataupun ibunya agar senantiasa dalam jejak-jejak kebaikan walau terjerembab berkali-kali. Apakah bentuknya adalah keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah yang berkumpul di surga kelak, ataupun 'hanya' doa anak soleh/ah jika ibunya berumur pendek dan tidak bisa membersamai sampai dewasa.
Astaghfirullah. Kadang saya memang terlalu mudah menghakimi kata-kata. Padahal kata hanyalah simbol, banyak yang tak tersurat di baliknya. 

Semoga Allah mengaruniakan saya, dan kita, anak-anak yang soleh dan solehah juga penyejuk dunia akherat. Aamiin.