Dreams are renewable. No matter what our age or condition, there are still untapped possibilities within us and new beauty waiting to be born.

-Dale Turner-

Friday, March 31, 2017

Berharap Punya Anak Saleh/ah

Dulu, saya sering gerah kalau mendengar seseorang berkata, "Anak itu tabungan kita. Kalau anak soleh, dia yang akan mendoakan kita terus menerus ketika sudah mati."
Saya pikir, egois sekali pemikiran itu. Masa membesarkan seorang anak demi kepentingan diri sendiri? Saya waktu itu berjanji, kalau saya punya anak, saya tidak akan berharap balasan apapun darinya. Biarlah ia soleh memang untuk keselamatan dirinya, bukan untuk saya.
Sampai, saya membesarkan seorang anak batita yang sudah mengenal emosi dan tahu bagaimana menggunakan logika dan kata-kata. Baru juga usia batita. Dan seringkali saya sudah harus menarik nafas sedalam jarak tanah pijakan ke pusat bumi atau tiba-tiba menulikan telinga seolah sedang di ruang vakum luar angkasa sendirian. Demi tetap sadar diri dan tidak mengaktifkan tombol emosi yang sedang dimainkan si bocah dengan cerdasnya.
Saat itulah saya sadar, apa maksud kalimat-kalimat yang saya dengar dulu. Mungkin, sebenarnya bukan minta didoakan oleh si anak. Tapi lebih kepada membujuk Tuhan agar kesabaran saat ini diganti kemudahan di masa depan. Agar apa yang diperjuangkan saat ini kelak berbuah legit. Karena tanpa harapan 'demi sesuatu yang lebih baik nanti', mudah sekali terdorong untuk mengikuti emosi jadi selevel bocah. 
Atau mungkin juga, maksud doa itu adalah... agar supaya anak-anak dalam pengasuhan ini tetap tumbuh sempurna lahir batinnya meski dalam perjalanan mereka menapaki usia banyak mengalami ketidakadilan dari ibu yang ternyata payah ini :,( 
Atau berdoa tetap dijaga oleh Allah, baik anak-anaknya ataupun ibunya agar senantiasa dalam jejak-jejak kebaikan walau terjerembab berkali-kali. Apakah bentuknya adalah keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah yang berkumpul di surga kelak, ataupun 'hanya' doa anak soleh/ah jika ibunya berumur pendek dan tidak bisa membersamai sampai dewasa.
Astaghfirullah. Kadang saya memang terlalu mudah menghakimi kata-kata. Padahal kata hanyalah simbol, banyak yang tak tersurat di baliknya. 

Semoga Allah mengaruniakan saya, dan kita, anak-anak yang soleh dan solehah juga penyejuk dunia akherat. Aamiin.

Sunday, February 19, 2017

Dakwah atau Kampanye?

Dari semenjak kuliah, saya kurang sreg pada konsep kampanye. Kalau dulu ramai dengan kampanye nikah muda, setelah punya anak ramai dengan kampanye asix dan teori parenting-parenting lainnya.

Kenapa saya tidak suka kampanye?

Menurut saya, untuk bisa berkampanye seseorang harus punya dua hal:
1. Dirinya terdoktrin akan kebenaran bahan yang dikampanyekan
2. Menyebarkan pemahaman tersebut

Hasilnya, banyak yang pada akhirnya:
1. Reaktif ketika hal yang dikampanyekan disinggung.
2. Agak (maaf) delusional pada "kebenaran" yang dikampanyekan. Saking yakin bahwa isi kampanye itu benar, kadang-kadang orang mengambil terlalu jauh. Misal, ASI ekslusif untuk 6 bulan, malah jadi ASI ekslusif 2 tahun (iya, beneran 2 tahun ga dikasih apa-apa anaknya selain ASI). Atau, kampanye nikah muda, jadi langsung maksain nikah begitu 'jatuh cinta'. Alhamdulillah kalau semua sesuai kapasitas, tapi kalau misalnya malah ngeganggu keseimbangan keluarga, misalnya?


Orang-orang kampanye kadang tak bisa melihat sisi lain diluar bahan kampanyenya. Itu yang sangat berbahaya. Nah, begitu dakwah dibawa dengan style kampanye, apa yang terjadi?
Polarisasi. Pendukung dan Hatersnya. Beu.


Jadi harusnya gimana?

Setahu saya, nabi Muhammad SAW tidak pernah memaksa orang lain, tidak reaktif, dan selalu proporsional dalam mengaplikasikan kebenaran-kebenaran yang dibawanya.

Lalu bagaimana beliau berdakwah? Dengan akhlaknya yang utama. Seruan, pengajaran Quran, dan penerapan sistem sesuai syariat adalah hal-hal lainnya.

Rasulullah adalah Qur'an berjalan. Jika ingin melihat indahnya Al Qur'an, lihatlah bagaimana indahnya akhlak Muhammad. Keindahan itu lah yang menjadi dakwah.

Saya ambil contoh perbedaan kampanye atau dakwah, misal untuk urusan jilbab.
Di Al Qur'an dikatakan: katakanlah pada para perempuan beriman, julurkanlah jilbabmu.

Orang kampanye:
Wah, Quran bilang gitu. Patuhi. Eh kamu, pake jilbab tau kata Quran. Ih, biar selamat di dunia akherat, kan aku sayang kamu. Heh, kalau kamu ga pake jilbab, ayah kamu masuk neraka lho.


Orang dakwah:
Wah, Allah bilang gitu. Emang bener? Dia mencari tahu. Menemukan ayatnya dan meyakini Quran benar, ia lalu berjilbab untuk dirinya sendiri. Tapi tidak berhenti disitu, ia juga bertanya 'kenapa?'. Lanjut mempelajari beberapa sumber tafsir, dan sejarahnya. Semaksimal kemampuannya kemudian ia menerapkan makna jilbab yang tersurat dan tersirat. Dalam kegiatan sehari-hari, aktivitasnya tetap sama dengan keadaan riang dan percaya diri.
Orang-orang yang melihatnya heran lalu penasaran. Eh, emang jilbab ga gerah ya? Eh, emang jilbab ga ngehalangin aktivitas ya? Lho, pake jilbab ternyata bawa aura sendiri ya. Hei kamu, boleh ga aku nanya-nanya soal jilbab?

Ini real. Saya merasakan perbedaan efek bertemu dengan dua tipe jilbabers seperti itu.


Kalau dakwah salah, bisa jadi kita tidak pernah bertemu dengan Ust Nouman Ali Khan versi sekarang yang sangat getol mempelajari Quran dan menyebarkan ilmunya. Karena alih-alih tersadarkan, beliau bisa jadi sangat antipati seperti seorang teman saya yang pernah juara azan di Indonesia namun memutuskan jadi agnostik setelah bertemu beberapa muslim dari Timur Tengah di Amerika.

Dakwah adalah mengundang orang untuk tertarik, bukan menjauhkan orang apalagi mengusirnya. 'Berdakwah walaupun sedikit' yang ada dalam sunnah -kembali menurut saya- memiliki arti tunjukkan keindahan ilmu yang dipahami dengan bahasa tubuh kita, kalau belum bisa menjelaskan ayat-ayat Allah secara mendalam. Bukannya baru belajar sepatah dua patah kata lalu memberi tahu orang lain apa yang harus ia lakukan, apalagi memaksanya.

Dakwah haruslah dua arah. Kalau satu arah namanya kampanye.

*Tambahan: Dalam hal ini, bukan berarti para ustad yang berdiri di mimbar sedang kampanye ya. Menyeru, mengarahkan, dan menjelaskan adalah bagian dari dakwah juga. Poin terpentingnya adalah, ustad-ustad tersebut tetap membuka ruang untuk diskusi dan komunikasi, bukan hanya melempar bahan*

Orang bersedia membuka diri dalam obrolan, jika ia merasa setara dan dihargai. Karena itu, dalam berdakwah penting untuk tidak memotong apa yang orang sampaikan. Terima dulu dia apa adanya, baru jika ia merasa bermanfaat untuk kita tambahkan, kita sampaikan di sisi mana kesalahan pemikirannya atau di sisi mana ia bisa memperbaiki diri.


Kita sering merasa tidak nyaman dan jengah dengan ide 'hidup bersama' karena tidak sesuai nilai dan prinsip yang diyakini. Bagi mereka yang lahir di AS (bule atau imigran keturunan kedua atau ketiga) dan bukan muslim dari lahir, hidup bersama adalah nilai yang diterima selama suka sama suka. Bagi mereka, ide bahwa mereka pendosa, berzina, buruk, apa mereka membuat jengah dan tidak nyaman juga. Lalu bagaimana kita mau berada di satu meja dan berdiskusi (apalagi berdakwah) jika sama-sama merasa jengah?

Hal ini pernah dilakukan teman adik saya di Swedia. Seorang wanita berjilbab di tengah-tengah acara makan siang, tiba-tiba mengutarakan ide: Hidup bersama itu tidak boleh, karena merugikan pihak wanita! Gerrr... Segera saja satu meja itu jadi ajang debat (bukan diskusi) yang panas oleh teman-teman dari bangsa lainnya, terutama dari mereka yang orangtuanya menerapkan hal tersebut.



Ketika ayah dan beberapa kawannya membuat pengajian yang isinya orang-orang Indonesia umum, mereka mendapat pro kontra. Yang hadir bervariasi dari mulai doktor, para insinyur terpelajar, sampai para istri bule yang tidak berkerudung, orang-orang indo yang senang clubbing, dan beberapa yang sudah hidup bersama tanpa menikah. Isi pengajian tersebut 'sekedar' sharing, seperti: sharia law yang sedang ramai itu apa? Boleh tidak puasa semampunya tidak ikut matahari karena lebih dari 18 jam? Zakat itu apa bedanya dengan pajak? Kemarin baca berita tentang....
Pembahasannya ringan, dan hanya sedikit bicara dalil. Ayah dan kawan-kawan dikecam karena tidak ada ustad lulusan pesantren yg memberi materi, melainkan hanya dari orang-orang alim yang belajar otodidak.


Hasilnya?

Satu orang sudah berjilbab, dan lebih dari tiga pasangan kumpul kebo kini menikah secara islam. Tahu tidak, sebagian yang datang bahkan tidak tahu bahwa berhubungan suami istri ketika puasa di bulan Ramadhan itu ada konsekuensinya. Beberapa, mungkin tidak bisa mengingat kapan shalat terakhirnya. Menurut saya, ketika orang-orang 'unik' seperti itu mau datang ke sebuah acara sensitif berjudul 'pengajian', itu sudah langkah yang harus didukung. Mereka ini, jika mendengar nama imam disana, belum apa-apa sudah kabur duluan :(


Apakah pengajian tersebut bisa disebut dakwah? Yang bisa menilai hanya Allah, saya tidak tahu. Yang saya tahu, para pendiri 'pengajian' itu sedang bergerak keluar dari bubble nya demi ikhtiar menjadi rahmatan lil alamin.

Apa itu rahmat?

Rahmah adalah kasih sayang yang tak pilih-pilih, menaungi semua makhluk, baik dan jahat, muslim ataupun bukan.




Wallahu a'lam bishawab.






Saturday, February 18, 2017

Belajar (lagi) sebagai muslim, di AS

Dulu, saya selalu berpikir rumit, gimana agar Islam diterima sebagai sesuatu yang ‘besar’ dan ‘hebat.’
Awal ‘dendam pribadi’ itu, adalah semenjak Islam menjadi bulan-bulanan paska kasus 9/11. Saya yang masih usia 15 tahun dan labil ketika itu, kemudian bertekad akan *menaklukan dunia* sebagai muslim.

mahahaha. kalau ga lebay dan berbau romantisme, bukan saya namanya😅

Semenjak itu, salah satu kesibukan selingan saya menjadi berpikir bagaimana agar Islam diterima oleh pikiran yang logis. Saya sering berontak dengan wujud Islam yang dibawa dengan terlalu konservatif. Pendapat saya, Islam harusnya bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman, dengan kemajuan berpikir otak manusia.
Saya lebih suka, mempelajari nilai-nilai Islam yang bisa diterapkan lalu membawa kebaikan horizontal daripada ibadah-ibadah kecil yang sekedar vertikal.

Sampai satu bulan yang lalu.

Kami bertemu keluarga pengungsi Suriah yang hendak pindah ke Utah dari San Diego. Ketika saya menceritakan pertemuan itu, seorang teman menghubungi saya: “Utah? Beneran? Utah kan surganya MORMON.”

Saya sedikit termenung. Mormon, adalah salah satu aliran Kristen yang dulu membolehkan poligami. Konon mereka harus hidup dengan jujur, tidak boleh merokok dan minum minuman beralkohol. Buat saya, Mormon kepercayaan yang menarik. Terbayang di kepala saya, para penganutnya adalah orang-orang ‘lurus’ yang kehidupannya apik karena mengikuti aturan.

Tak lama setelah kejadian itu, presiden AS yang baru tiba-tiba membuat aturan #muslimban untuk imigrasinya. Dengan serentak dan masal, rakyat AS berontak. Bahkan hanya dalam 5 hari, hakim turun tangan dan menyuruh penundaan deportasi atas aplikasi aturan tersebut. Kemudian kurang dari 2 minggu aturan tersebut diblok nasional oleh hakim negara bagian Washington dan tidak boleh diberlakukan lagi, sehingga semua warga dari 7 negara yang semula dilarang, termasuk para pengungsi boleh masuk AS lagi. Dua kali Trump banding setelah itu, dan ia kalah dua-duanya.

Saya benar-benar tercengang pada kekompakkan AS mendukung muslim, dari level masyarakat biasa, pengacara, gubernur-gubenur berbagai negara bagian, sampai para hakim pengadilan tinggi. Siapa muslim di mata mereka?

Lalu saya menarik kesimpulan baru. Mungkin muslim di mata mereka, sama seperti mormon di mata saya. Yaitu sekelompok orang-orang yang mempunyai keyakinan tertentu dan hidup baik-baik dengan aturannya. Sebagian mereka mungkin mengenal muslim adalah masyarakat yang tidak mengizinkan mabuk, tidak makan babi, dan tidak seks bebas. Manusia-manusia yang tidak menikmati hidup, hueheh, tapi tidak membahayakan orang lain.


Praduga ini membuka mata saya, jika muslim sudah begitu di mata mereka, buat apa saya sebagai muslim malah sibuk ‘merasionalkan’ Islam? Sibuk berusaha menunjukkan bahwa Islam sesuai zaman? Islam *mungkin* memang tidak mengikuti perkembangan zaman dalam beberapa hal, and that’s OK. There’s a beauty in being dull and conservative.


Hmm..
Tetiba pandangan saya berbeda tentang hijab. Sebuah kain lurus yang menyembunyikan lekuk tubuh dipadu dengan jilbab lebar, dulu terkesan memakai 'karung' bagi saya karena saya pribadi merasa 'tertelan'. Kali ini terlihat manis dengan nilai-nilai tersiratnya.

Entah bagaimana saya pun tiba-tiba iri melihat gelar hafidz dan hafidzah. Sesuatu yang dulu di kepala saya terkesan; 'kalau bisa alhamdulillah, ga juga gakpapa’. Kali ini, ingin sekali menjadi pecinta Quran seperti mereka mencintai Quran. Bukan hanya berusaha memahami isinya, tapi juga menghafalnya di dalam kepala. Saya mendadak turut yakin, seburuk-buruknya penghafal Quran, pasti lebih baik dari mereka yang membacanya sekedar membolak balik halaman. Apalagi saya yang cuma baca sesempatnya😞.


Biarlah saya menjadi muslim yang terlihat sebagai manusia menyedihkan bagi mereka yang berpikiran modern. Tapi kali ini, entah kenapa saya bangga menjadi muslim 🙂

Terima kasih, Amerika Serikat.



Eh.

Dengan penerimaan identitas, mungkin membantu seseorang menemukan fitrah?

Sunday, January 01, 2017

Tahun Baru 2017

Satu jam lagi, adalah kali terakhir saya menatap orangtua dan anak-anak saya di tahun 2016. Selanjutnya kami bertemu lagi di tahun 2017.

Saya tersenyum.Perasaan yang aneh.

Entah kenapa bagi saya momen-momen tertentu, seperti ulang tahun, adalah sesuatu yang perlu. Bukan penting untuk dirayakan, tapi penting sebagai penanda jejak. Setiap hari membuka mata dan menjalankan rutinitas hidup seringkali kita merasa hidup tidak akan habis. Maka hari kita lahir adalah pengingat sudah berapa banyak hari terbuang. Juga momen bagi orang-orang sekitar sudah berapa lama kehadirannya memberi makna.

Saya belum mencari tahu, apakah orang yang tidak memperingati ultah apakah memperingati maulid nabi Muhammad? karena bagi saya maknanya sama: menafakuri diri. Soal api sebagai simbol sesembahan, tinggal dihilangkan saja dalam acara tafakur tersebut. Bagi saya pribadi, tiup lilin untuk anak-anak adalah aktivitas menarik yang tidak saya izinkan setiap saat karena bahaya dan bau. Maka momen mereka boleh meniup lilin bisa menjadi jalan masuk mengajari mereka ttg tafakur sederhana.

Lalu tahun baru? Apa maknanya?

Dalam peredaran matahari dan bulan ada tanda-tanda kebesaranNya. Jika Islam memakai peredaran bulan sebagai perhitungan tahun, apa yang salah dari perhitungan tahun berdasarkan peredaran matahari?

Bagi saya pribadi, pergantian tahun adalah bingkai perjalanan hidup. Apa-apa sejarah yang terjadi lebih mudah dipelajari jika waktu terbingkai rapi. Pengingat kita, bahwa hidup tidak lebih dari sekedar siklus yang berulang. Memberikan harapan, juga kehati-hatian.

Sesungguhnya kita dalam kerugian jika sepanjang bingkai waktu tak diisi dengan saling berwasiat kebaikan dan kesabaran.

#jedang *autonyepetdirisendiri

Begitulah.

Menit-menit pergantian tahun masehi waktu Pasifik. Semoga di angka tahun yang baru ini, saya semakin mengurangi kesia-siaan. Happy New Year! 🙂




*Lima jam menuju bandara untuk kembali terpisah-pisah ke perantauan mengejar rezeki☺️

Thursday, December 22, 2016

Saya- Paska Kemenangan Trump


Ketika Trump menang, Saya tahu saya tak punya pilihan lain selain menantang ketakutan di kepala saya -yang terpupuk semenjak kampanye- secara frontal. Kalau saat ini saja dimana Trump belum resmi jadi pemimpin saya sudah tidak pede kemana-kemana sendiri, apalagi nanti. Saya punya teori, siapapun presiden negara ini, secara umum sikap masyarakat satu sama lain tidak akan berubah. Karena mereka sudah punya karakter sendiri, juga integritas bahwa rasis adalah hal memalukan. Tentu saja, sebagian orang menampikkan integritas itu, dan menganggap rasis paska kemenangan Trump adalah kebanggaan. Tapi saya kira orang-orang “bodoh” seperti itu selalu ada dimana saja, di setiap negara atau daerah. Kadang ketika tidak beruntung saja kita akan bertemu mereka.

Jadi, beberapa hari setelah Trump menang, saya lalu memutuskan untuk mencoba berangkat naik pesawat bertiga saja bersama anak-anak. Kenapa pesawat? Karena saya selalu punya “ketidaknyamanan khusus” tiap kali akan naik pesawat di Amerika Serikat. 
Pertama, untuk lolos dari TSA di bandara. TSA US adalah salah satu  yang super ketat di dunia. Yah, setidaknya jika dibandingkan dengan TSA Asia Tenggara dan Jepang. Semua orang harus mempereteli semua yang terselempang selain pakaian inti, termasuk sepatu. Laptop tidak boleh ada di dalam tas, harus dikeluarkan -bahkan dari dalam soft case nya- dan disimpan di tray terpisah. Jika bawa stroller harus ((dilipat dan diangkat)) ke atas utk masuk scanner, termasuk car seat juga. Di Seattle, setelah barang-barang masuk, kadang orang discan tidak lagi menggunakan pendeteksi metal tapi X-Ray besar dan kita harus berdiri tegak dengan posisi tangan diatas kepala dan kaki diregangkan. Pernah saya merasa perlakuan TSA ini berbeda untuk yang berjilbab. Tapi ternyata orang-orang Barat pun sering merasa dipersulit oleh mereka.
Berikutnya, kekhawatiran di dalam pesawat. Pertama, apakah saya akan bertemu kru-kru profesional dan rasional? Dua atau tiga cerita tentang bagaimana keluarga muslim diminta turun dari suatu maskapai karena mengucapkan sesuatu berbau Allah, membawa rasa parno sendiri. Kedua, sikap para penumpang di pesawat. Membawa anak artinya membawa probabilitas tak terduga yang banyak. Hal sepele seperti lapar haus dan kantuk bisa membuat mood mereka berubah, dan berujung pada ulah atau tantrum. Belum lagi kalau ada ketidaknyamanan lain. Sekarang kalikan dua tanggung jawab menjaga perilaku mereka namun harus ditangani sendirian selama 2.5 jam tanpa bisa berhenti untuk turun sejenak.
Fiuh.
Perasaan yang semakin kuat menyergap saya beberapa hari sebelum keberangkatan mendorong diri mendalami dengan jiwa raga apa yang mungkin dirasakan oleh para pejuang Islam di masa awal-awal penyebaran, ketika masih menjadi minoritas dan masyarakat Mekah tidak mengerti ajaran ini.
Rasa lemah menjadi seseorang yang rentan jadi incaran hanya karena meyakini sesuatu atau karena pilihan pakaian. Juga perilaku natural si balita yang lagi senang menghafal Quran dan cerita Muhammad yang membuat saya cukup risau ia akan menyebut nama nabinya atau Tuhannya di pesawat lalu ada orang salah paham dan panik. 
Jadi teringat. 
Rasulullah menangis menjelang perang Badar. Berdoa dalam sujudnya yang panjang hingga jubahnya terjatuh menyiratkan kekhawatirannya jika umat muslim kalah kali itu. Abu Bakar ysng melihatnya merangkulnya dalam sendu dan meyakinkan bahwa Allah akan memenuhi janjiNya.
Tangisan doa beliau, tentu saja bukan karena Rasulullah kurang beriman pada kekuasaan Allah atau kehendakNya. Di mata saya, kejadian itu hanya membuktikan betapa sulitnya menjadi manusia muslim. Yaitu sebagai kreatur yang dilimpahi otak dengan segala kemampuannya untuk menakar berbagai macam kemungkinan terburuk, tapi di saat bersamaan harus mampu merendah hati bahwa ada kekuasaan di luar otaknya dan tak tertakar. Untuk berserah diri dalam ketidakberdayaan namun sekaligus harus mampu menguatkan diri berusaha dalam keyakinan menyambut hasil qada baik atau buruk dari Tuhan yang paling dan Maha. 
Tidak mudah mengkompromikan batin dengan pikiran dan perasaan halus.
Beberapa jam sebelum keberangkatan, saat semua tertidur saya kemudian menelaah internal diri.
Merenungi lagi pilihan dan takdir yang diperjalankanNya untuk kami sejauh ini. Allah pasti sudah tahu Trump akan menang ketika Ia memberikan suami saya pekerjaan disini. Itulah mungkin mengapa ketika Trump benar-benar menang saya hanya tersenyum. Setengahnya karena saya sudah bersiap-siap atas hal tersebut dari puluhan bacaan yang saya ikuti selama pemilu, setengahnya karena seminggu sebelum hasil itu keluar saya seperti tahu Allah akan menskenariokannya  dan memberi tahu untuk tenang saja ketika saya bersujud harus bagaimana jika hal itu terjadi.
Namun, “tenang saja” yang saya pahami berdasarkan pengalaman adalah kadang berarti: kamu akan sangat baik-baik saja, tapi tidak menjamin akan senyaman yang kamu harapkan.
Pemikiran itu yang membuat saya berani sekaligus kerap waspada untuk mengantisipasi sesuatu di luar harapan saya. 
Dalam kesendirian malam itu, saya lalu meneruskan bacaan Quran saya. Hanya meneruskan, bukan membuka Quran untuk mencari jawaban. Tapi Apakah kebetulan ketika itu adalah surah Ali Imran 122? Semakin saya baca, semakin saya ‘tertawa’ pada ‘lelucon’Nya. Sungguh, tidak ada yang paling menohok bagi kondisi pikiran, perasaan, dan keimanan saya saat itu selain kata-kataNya yang saya baca saat itu.
Seakan-akan Allah berkata, “Katanya mau tau esensi Islam? Ya sok latihan serius apa makna ‘hanya bergantung pada Allah’.”
Selemah-lemah kondisi diri. Ketika kematian dan celaka terasa begitu dekat. Namun juga sekuat-kuat harapan akan iman dalam beberapa tahun terakhir: Allah akan membersamai,  jika kamu mengikuti persyaratannya.
Sebuah pengalaman spritual yang benar-benar berharga untuk saya.
...
Dan ternyata, Allah benar-benar mengirimkan serdaduNya pada saat keberangkatan. Dari mulai adanya agen TSA yang helpful dan ramah bahkan membantu mengangkat semua dan menenangkan saya. Sampai bertemu penumpang yang sangat peduli dengan kerepotan saya, membawakan stroller sampai kaki pesawat, mengangkat tas Eyra ketika naik tangga ke atas pesawat, dan hey, ternyata duduknya juga tetangga sebelah kami di dalam pesawat! Menjamin kami dapat makanan dan minuman selama perjalanan bahkan berbagi tentang pentingnya pengasuhan anak dwi bahasa.
Maha Baik Allah. 
Maha Pengasih,
Maha Penyayang.

Alhamdulillah saya adalah orang yang beragama, dan agama itu Islam.