Dreams are renewable. No matter what our age or condition, there are still untapped possibilities within us and new beauty waiting to be born.

-Dale Turner-

Sunday, January 28, 2018

USIA

"Bap, mungkinkah seseorang wafat karena disebabkan hal lain? Misal, karena kekuatan mistis?" sebuah pertanyaan yang sebenarnya aku tau apa jawabannya, namun hanya ingin mendengar lagi dengan pasti.

"Usia, tidak ada satupun yang tahu kecuali Allah. Bahkan malaikat Izrail pun hanya tahu beberapa saat ketika ia akan mencabut nyawa orang tersebut." jawab ayahku.

Aku diam. Terbayang kembali olehku seperti apa saat-saat terakhir ibu mertua, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.

"Ibu lagi shalat maghrib di mushala sama Bude, " cerita Kakak Iparku, "Mereka ga berjamaah. Waktu Ibu sudah tahiyat akhir, Ibu salam ke kanan dan ke kiri, terus tiba-tiba ambruk ke pangkuan Bude dan ga sadar. Bude manggil-manggil Ibu, tapi gak ada jawaban. Semua lalu panik, dan dokter segera dipanggil. Dokter agak lama datangnya, dan waktu dia tiba, dokter menyatakan Ibu udah meninggal. Saat itu badannya masih hangat karena meninggalnya mendadak. Kata dokter, kematian seperti itu agak lama kaku dan dinginnya..."

Aku menghela nafas. Kisah Ibu meninggalkan dunia benar-benar membuatku merenung. Bagaimana mungkin seseorang yang sehat walafiat tidak ada riwayat sakit berat, bisa pergi begitu saja sebulan setelah kepergian adiknya yang sakit jantung? Dua hari setelah kami berpelukan dan berjanji bertemu lagi tahun mendatang?

Usia, pada Ibu benar-benar tampak sekedar kontrak untuk bernafas tanpa filosofi berat. 

Namun kita tahu, hal yang tampak sederhana tak pernah  sesederhana itu. Jika memang usia sudah ditentukan, tidak akan lebih awal dan tidak akan terlambat sedetik pun, aku membayangkan bahwa bisa jadi ada beberapa skenario yang mungkin terjadi pada Ibu jika keadaannya berbeda.

Kalau saja Ibu adalah orang yang senang jalan-jalan, mungkin jam tersebut ia sedang berjalan di trotoar, lalu tiba-tiba terjatuh. Kalau Ibu adalah orang yang senang memasak, mungkin jam tersebut ia tengah menunggui oven, lalu sesuatu yang tidak diinginkan terjadi di dapur. Kalau Ibu adalah orang yang senang berkebun, mungkin saja kami akan menemukannya di taman.

Ibu adalah ketiganya. Ia senang memasak, berkebun, juga berjalan kaki. Tapi diatas semua itu, Ibu adalah orang yang senang shalat di awal waktu. Setiap maghrib dan isya, Ibu akan berjamaah di mesjid. Subuh, dzuhur, dan ashar, walau jarang ke mesjid, selalu beliau tunggu datangnya waktu adzan dan beliau sambut panggilannya dengan segera. Kalau kami hendak pergi keluar 30-45 menit sebelum adzan, beliau akan melarang. “Nanti aja kalau udah solat, kenapa harus terburu-buru? Ga darurat kan?”

Tidak sekali dua kali saya melihat wajahnya kelelahan sehabis mengerjakan pekerjaan rumah, lalu bertanya,

“Ibu, udah istirahat, tidur siang?”

Ia akan menjawab dengan senyum, “Tadi udah rebahan. Sebentar lagi adzan, tanggung kalau tidur.” kemudian ia berjalan ke kamar mandi untuk menyegarkan diri dan mengambil wudhu.

Setiap hari setengah jam sebelum adzan maghrib, beliau akan bergegas mandi, agar ketika adzan beliau sudah siap untuk shalat lalu langsung berangkat menuju mesjid. Setiap kali shalat, Ibu selalu tampak khusyuk tidak terburu-buru. Gerakannya tenang, bahkan walau beberapa kali saya lihat tiba-tiba ada tamu mencarinya. Sebulan terakhir usianya, Ibu tampak lebih memilih membiarkan tamu tak diundangnya menunggu, daripada meringkaskan shalatnya. Dan tamu-tamunya pun ternyata tak ada yang keberatan.


Kalimat terakhir yang diucapkan Ibu pada anaknya, adalah untuk anak bungsunya, adik ipar, yang mengantarkannya ke rumah saudaranya, “Tunggu dulu shalat jumat selesai, baru pulang" ucapnya. Tidak ada pesan khusus, atau amanat. Tak ada kila-kila atau kesan tersirat. Hanya pesan sederhana yang tak bosan diucapkannya setiap saat pada anak-anaknya: utamakan shalat, baru lakukan kegiatan lain.

Jika memang usia sudah ditentukan, tidak akan lebih awal dan tidak akan terlambat sedetik pun dan jika Ibu adalah orang yang penunda shalat, bisa saja Ibu dipanggil ketika beliau sedang mengunyah makanan atau berada di kamar mandi. Namun, sedemikian sempurnanya Ibu dalam menunaikan shalat, dari mulai wudhu, berdiri menghadap kiblat, khusyuknya membaca alfatihah, bacaan surat pendek, ruku, panjang waktu sujud, dan semuanya. Begitu tepatnya keseluruhannya selesai dengan habisnya usia beliau di dunia. Seselesainya memberi salam, malaikat menjemputnya...

MasyaAllah. Subhanallah.
Aku tahu, sungguh bukan tentang berapa lama Ibu berdiri atau berapa menit memakai mukena di saat-saat terakhirnya sebenarnya yang membawa kaparipurnaan ujung usianya seperti itu. Namun tentang bagaimana beliau melakukan kebiasaan tersebut seumur hidupnya. Hal yang menjadi bagian dirinya puluhan tahun. Akhir nafas beliau, hanyalah sebuah kesimpulan. 

Tak perlu sebab khusus bagi Allah untuk memanggil kita kembali, kita akan dipanggil saat sedang melakukan hal yang penting menurut kita.


 





wallahu a'lam bishawab

0 komentar: