Dreams are renewable. No matter what our age or condition, there are still untapped possibilities within us and new beauty waiting to be born.

-Dale Turner-

Friday, June 29, 2018

Jebakan Ramadan

Ada yang unik dari Ramadan. Bulan penuh berkah ini mengundang kita sebagai umat muslim untuk berpuasa dan beribadah sebanyak-banyaknya selama satu bulan penuh. Konon, bulan ini adalah charger keimanan seorang muslim untuk menghadapi satu tahun ke depan.

Jebakan Ramadan yang saya maksud adalah, tentang kuantitas dan kualitas beribadah yang dilakukan selama Ramadan.

Ramadan seharusnya adalah momen untuk melatih ibadah vertikal sebanyak-banyaknya. Bagaimana kita tetap melakukan kegiatan harian biasa namun sembari meluangkan waktu untuk lebih banyak menegakkan shalat, lebih banyak berinteraksi dengan Quran, lebih sedikit bicara dan memilah hal yang tak bermanfaat. Dan sungguh, semua itu lebih mudah dilakukan pada bulan Ramadan. Karena, selain teman untuk melakukannya banyak dan serentak, pada bulan ini syetan dibelenggu. Ya, saya sungguh percaya syetan dibelenggu bulan ini, dan bukan kiasan. Kenapa? Karena syetan yang berada di pikiran kita, kentara sekali tak ada. Di bulan ini kita berkenalan dengan hawa nafsu sendiri yang pada hari-hari normal dimanfaatkan menjadi kendaraan syetan.

Syetan yang saya maksud adalah jin qarin. Jin yang menemani kita dari semenjak lahir, dan tumbuh bersama kita. Ia mengenal semua harapan, ketakutan, dan kebiasaan kita. Di hari-hari biasa, sering sekali cara berpikir dan merasa kita dibelokkan dan dipermainkannya jika kita tak mengenali diri sendiri.

Kembali pada jebakan Ramadan.
Maka, demi meraih keberkahan bulan ini yang banyak dijanjikan, juga demi mengetes sejauh mana diri kita mampu memaksakan ingat kepada Allah selama rutinitas yang sama, kita sering mengeset sebuah target-target tinggi. Sekian juz Quran per hari, sekian banyak rakaat shalat per hari, sekian banyak sedekah per hari, dan lain sebagainya.

Jebakannya adalah, ketika target tersebut tercapai, kita merasa puas.
Kita lalu merasa lebih saleh karena kuantitas ibadah kita meningkat.
Kita merasa Ramadan kita berhasil.

Tapi kau tahu bagaimana cara melihat apakah kau masuk jebakan atau tidak?
Lihat 1 Syawalmu.
Lihat 6 Syawalmu.
Lihat 15 Syawalmu.

Sampai di sini, masih kah kau rasakan kenikmatan ibadah yang dulu kau lakukan saat Ramadan?
Sudah bisa kah kau membedakan mana nafsu, bisikan syetan, dan suara qalbumu?




Wednesday, June 27, 2018

Obrolan dengan Bapak: Arti Kebahagiaan dan Kesempurnaan Muhammad

Kali terakhir kami mengobrol serius tentang hidup dan agama, mungkin dua tahun yang lalu kala saya belum pindah ke LA, dan eyang abi belum bekerja di West Palm Beach. Alhamdulillah, di mudik Idulfitri 1439 H ini, kami sempat mengobrol kembali saat saya sedang sibuk packing untuk pindahan ke Irvine 12 jam sebelum pesawat take off. Enam bulan terakhir saya sempat tinggal bersama Mama kembali, menemani beliau sekalian Eyra menyelesaikan sekolah pre-kindergarten nya di mesjid Bothell.

Awalnya obrolan tentu ngalor ngidul, tentang segala hal selama dua tahun terakhir. Kemudian saya pun mulai bertanya keresahan saya dalam beberapa bulan terakhir:

1. Kenapa Allah beri kita ujian? Apakah Allah ga pengen kita bahagia?
2. Mana yang sempurna sebenarnya, Islam atau Muhammad? Karena kalau Muhammad sudah sempurna, untuk apa Islam baginya?

Bap lumayan merenung sejenak sebelum memulai diskusi kami. Berikut kesimpulannya:


  • Kenapa Allah beri kita ujian? Apakah Allah ga pengen kita bahagia?

Bap (B) : Bahagia itu apa sih?
Saya (S): Bahagia itu mendapatkan hal yang kita inginkan.
B: Nah, harusnya kita melakukan hal yang Allah inginkan kan, bukan yang kita inginkan?
S: Iya, tapi kenapa? Kenapa Allah beri kita keinginan dan harapan, kalau kita tak boleh menurutinya?
B: Jangankan kamu. Even angels ask. Ya kan? Di Al Quran? "Kenapa Engkau ciptakan manusia? Yang ... begini begitu." Dan jawaban Allah adalah, "Aku tahu yang kau tak tahu."
Hanya Allah yang tahu dengan pengetahuanNya.
Tapi, sesungguhnya kalau kamu perhatiin. Makhluk bernama manusia ini kemuliannya bisa lebih tinggi dari malaikat, dan kebejatannya bisa lebih buruk dibanding setan. Bahkan setan pun berkata, "Ya Allah, saya mah gak gitu-gitu amat yaa...."

S: Haha.
B: Artinya apa? Kita berada, katakanlah, dalam rentang -100 sampai +100. Dengan asumsi -100 manusia yang sangat jahat lebih jahat daripada syetan. Sementara +100 adalah manusia yang sangat mulia, lebih daripada malaikat.
S: Misalnya +100 adalah nabi Muhammad.
B: Ya, nabi Muhammad.
Lalu, asumsikan yang baru lahir ada di posisi 0.
Nah, dari level manusia yang beragam tersebut, ternyata level kebahagiaannya pun berbeda. Biar gampang, coba bayangkan level ini dari segi harta dulu lah.

Untuk manusia level 1, mungkin kebahagiannya adalah bisa nonton tv. Tapi orang kaya level 20, kebahagiaannya adalah kalau bisa beli barang langka yang mahal. Kebayang, beda definisi kebahagiaan?

S: Misalnya orang jahat kebahagiaannya dengan menyiksa orang, sementara orang baik mah kebahagiannya kalau bisa hidup damai berdampingan.
B: Iya, bisa. Nah, kebahagiaan orang level (+) ga akan bisa ngebayangin kebahagiaan orang (-) . Gak masuk di logikanya. Seseorang harus berada di level yang sama untuk bisa memahami tipe kebahagiaannya.
S: *mengangguk-angguk, membayangkan kebahagiaan Rasulullah shalat berdiri sampai kakinya bengkak.*

Terus, apakah kalau sudah level +100, artinya sudah benar-benar bahagia? Buktinya Rasulullah pun sampai mau meninggal masih khawatir pada umatnya, "ummati, ummati."
B: Nah, hati-hati tuh. Itu kata 'khawatir', dan 'rasul sakit ketika dicabut nyawa' adalah pandangan manusia dengan level jauh di bawah Rasulullah. Fakta yang sama bisa jadi berbeda yang dirasakan oleh Rasul.
S: Ooh iya juga. Bisa jadi ketika Rasulullah berkata, "ummati, ummati" bukan karena kekhawatiran meninggalkan umatnya, tapi kebahagiaan melihat apa yang akan didapatkan umatnya yang sudah tersibak di depan matanya?
B: Iya. Bisa begitu kan? Pokoknya, kalau bicara tentang Rasulullah, kita harus berhati-hati memainkan diksi. Kita berbeda level dengan dia, perasaan dan pemahaman kita ga nyampe.
S: *ngangguk, ngangguk*

S: Tapi belum kejawab pertanyaannya. Lalu buat apa ada ujian? Kenapa kita tak selalu mendapat apa yang kita inginkan?
B: Ujian itu kan bahasa kita. Padahal, itu cara Allah memberikan kebahagiaan yang levelnya lebih tinggi. Kita belum ngerti, dan mengeluh. Padahal kalau kita jalani ketidakenakan sementara itu, kita di jalan mengikuti petunjuk Allah untuk menjadi manusia yang nantinya melihat keinginan kita sebelumnya itu ternyata tidak ada apa-apanya. Ada sesuatu yang lebih indah dan menyenangkan, yang kita belum tahu.

Dan kamu harus tahu: Ada harga ketidaktahuan.

Berat memang tidak mengetahui yang Allah tahu. Bahkan itu yang Nabi Khidzir katakan pada nabi Musa di dalam Al Quran, "Bagaimana kamu bisa bersabar, padahal kamu tidak mengerti?"

S: Kadang kita tahu ya, bahwa hal yang kita alami adalah ujian yang belum kita mengerti. Kita tahu harusnya bersabar, tapi ya itu, sistem otomatis di tubuh kitanya yang bereaksi duluan. Emosi duluan daripada kesadaran si otak.
B: Itulah pentingnya dzikir. Dzikir itu apa? Bukan sekedar 'dzikir = ingat' kaya definisi di sekolah-sekolah. Yang utama, 'Dzikir = sadar'. Dzikir bukan sekedar baca sesuatu 33 kali tapi pikiran kita kemana-mana. Justru dzikir seharusnya adalah mereset pikiran untuk hadir pada momen saat ini.

Apa manfaatnya?

Yang kamu tadi bilang. Tubuh kita punya kebiasaan untuk merespon kejadian. Dengan sadar, kita bisa mengerem respon tersebut. Sehingga lambat laun reaksi kita berubah.

S: Oh, aku tahu. Kaya yang dibilang buku 'Thinking, Fast and Slow'. Tubuh kita punya dua sistem. Sistem bawah sadar, dan sistem sadar. Untuk ngerubah sistem bawah sadar, di sistem sadar harus diucapkan dan dilakukan berulang kali sampai ngerubah si sistem bawah sadar. Misalnya, waktu latihan nyupir setir kiri, padahal udah biasa setir kanan. Itu kalau ngelamun, badan kita otomatis ngambil jalur kiri terus kan. Harus nanamin berkali-kali di otak bahwa kita sedang setir kiri maka harus ambil jalur kanan, jalur kanan, jalur kanan.

B: Iya. Di Islam cara mengubah sistem itu dengan dzikir.

Kamu tahu gak, kalau pikiran kita ada di masa lalu, kita akan berfokus pada kenangan dan penyesalan kenapa gak begini begitu. Dan kalau pikiran kita ada di masa depan, kita akan berfokus pada kekhawatiran yang belum terjadi. Tapi kalau kamu berpikir per saat ini, kamu gak akan ngerasa apa-apa. You just do what you have to do. Itulah Power of Now. Kita harus selalu sadar kehadiran kita di waktu present ini.

Dan ayo kita buka apa sih arti bacaan yang diucapkan saat dzikir:

Subhanallah : Maha Suci Allah. Artinya, segimanapun kamu menakar kebaikan Allah, itu salah. Allah jauuuh lebih baik. Segimanapun kamu menakar Allah pemaaf, itu salah. Allah jauh daripada itu. Semua pemikiran kita akan Allah, pasti salah. Allah lebih dari semua itu. Kita gak bisa menjangkauNya. Maka itu kita ucapkan: maha suci Allah dari kapasitas kita yang terbatas dalam menilaiNya.

Astaghfirullah: Ampuni aku. Udah jelas lah ya itu mah.

Alhamdulillah: Segala puji bagi Allah. Semua ucapan baik, harusnya ditujukan Allah. Kita gak berhak. Kamu baik, kamu sabar, kamu pemaaf, itu seharusnya pujian untuk Allah. (tambahan dari penulis, kalau menurut Quraish Shihab pujian adalah sesuatu yang disematkan untuk seseorang yang melakukan kebaikan dengan sadar. Kuncinya di kebaikan dan sadar. Allah selalu sadar melakukan segala keputusannya. Dan yang Ia putuskan selalu baik. Maka segala puji memang hanya untuk Allah.)

Allahu Akbar: Allah Maha Besar. Kebesaran Allah sungguh-sungguh tak terjangkau. Kita berada 'di dalam'Nya. Kalau Allah bisa dibayangkan, artinya Allah lebih kecil dari ruang tersebut. Misal kamu bisa lihat laptop, karena laptop lebih kecil daripada ruangan yang ada kamu di dalamnya. Jadi, Allah lebih besar dari semua ruang dan waktu. Artinya, Ia juga berkuasa untuk segala sesuatu. Gampang kalau Allah menginginkan sesuatu

S: Wait. Soal Allah Maha Besar, kemarin waktu itikaf di lantai bawah sendirian, aku kan ngerasa keu-eung. Kok kaya ada sesuatu di belakang aku. Aku udah noleh, gak ada apa-apa. Aku berdiri buat shalat tapi tetep kerasa sesuatu. Gak tau parno doang atau beneran ada. Terus aku berdo'a sambil shalat: Ya Allah, lindungi. Ya Allah, tolong usir.
Nah, lucunya dalam keadaan itu pikiran aku ngomong: Duh ini jin sih deket banget di belakang kita, kerasa yak kan. Tapi Allah di mana? aku gak bisa ngerasain Dia. Walau aku minta tolong, tapi aku gak bisa tuh ngerasa Allah lebih dekat dari urat leher. heuheu.

B: Hm, kamu tahu gak. Dalam level ghaib, semakin dua makhluk satu frekuensi, maka mereka bisa semakin bisa merasakan kehadiran masing-masing. Makhluk ghaib yang makin mulia, frekuensinya semakin tinggi. Sementara kalau kamu ngerasa merinding dan sebagainya, artinya tuh makhluk frekuensinya rendahan. Mahkluk berfrekuensi rendah, gampang banget dikalahin sama yang frekuensi lebih tinggi.

Kamu gak bisa merasakan kehadiran Allah secara fisik? Bagus, berarti Allah memang berada di frekuensi sangat halus tertinggi. Tapi kamu harus mengerti, bahwa artinya Allah telah hadir juga di situ. Dan kamu aman dalam perlindunganNya.

S: Iya, memang walaupun aku 'gak merasakan kehadiran Allah', akhirnya perasaan takut itu hilang sih kemarin.
B: Itu bukti Allah telah menghilangkannya. Lagipula, sebenarnya bisa aja yang di sekitar kamu malaikat, cuma karena kamu gak ngerti aja.
S: Oke, mengerti soal konsep tiga dzikir dan kesadaran. Sekarang, pertanyaan berikutnya yang ngeganggu aku selama beberapa bulan terakhir.



  • Mana yang sempurna sebenarnya, Islam atau Muhammad? Karena kalau Muhammad sudah sempurna, untuk apa Islam baginya?


Bap: Hmm. Muhammad itu contoh manusia yang berproses dengan benar, bahkan sebelum Islam turun padanya. Muhammad itu hanif, artinya dia bertindak sesuai bisikan qalbu nya. Dan Qalbu kita itu murni. Banyak dari kita, ketika dihadapkan pada situasi tertentu dan hati kita berkata 'jangan', kita bukannya nurut malah ikut kata otak yang bilang, 'ah, palingan juga...'
Nabi Muhammad enggak. Ia selalu tahu ada yang salah, dan ketika dewasa semakin merenungkannya bahkan sampai ke gua hira kan.

S: Jadi, nabi Muhammad sudah terjaga bahkan dari kecil? Jadi untuk apa Islam baginya?

B: Hmm... bagi kita, beragama Islam agar DIRI SENDIRI menjadi petunjuk untuk menjadi baik kan (yes, beliau menekankan di kata diri sendiri). Bagi seorang Muhammad, kehadiran Islam adalah untuk -seperti yang dicantumkan dalam Al-Quran- menjadi suri tauladan bagi MANUSIA. Manusia, yu. Billion orang. Akhlak dia menjadi contoh untuk manusia seluruhnya, dimanapun di bumi sampai akhir zaman. Apa gak berat tuh?

S: Berarti benar, Nabi Muhammad waktu kecil dadanya sudah dibersihkan malaikat? Nabi Muhammad sudah dilindungi dari hal-hal tercela?

B: Yaa, biarlah Allah juga malaikat membantunya. Karena Iblis juga mati-matian Yu menghancurkan misinya.

S: Iblis?

B: Iya, musuh-musuh yang dikirimkan Iblis untuk Muhammad gak main-main. Orang-orang munafik di dekat dia, orang-orang jahat yang terang-terangan, perang, dan kekalahan. Ujian kita gak ada apa-apanya, jadi sekalipun Rasulullah sudah dicabut nafsu dan kelemahannya, jalan dia tetap sangat berat.

S: Tapi, adakah jejak kemanusiaan Rasulullah? Kalau beliau sudah begitu sempurna? Cuma bermuka masam kah, contoh kelemahan beliau yang ada di surat Ab Basa?

B: Bahkan, muka masamnya beliau itu bukan karena tidak suka dan reaksi emosi kan? Cuma salah strategi karena beliau berharap yang lebih besar efek dakwahnya.

S: Jadi, adakah jejak kemanusiaannya?

B: Apakah Rasulullah tidak menangis?
Kamu pernah dengar kisah ini. Suatu hari seseorang melihat Ali, Fatimah dan anak-anak mereka hendak berbuka puasa dengan roti yang sudah hampir basi. Orang itu tak tega dan langsung berlari melapor ke Rasulullah, "Ya Rasul! cepat temui anakmu, Fatimah!"
Rasulullah bertanya, "Ada apa?!"
Orang tersebut gak tega menceritakannya, "Pokoknya, cepatlah temui anakmu."
Rasul pun bergegas ke rumah Fatimah.
Ketika beliau sampai, beliau melihat para ahlul baitnya sedang memakan roti hampir basi tersebut sambil tertawa-tawa. Dan Rasul menangis, meneteskan air mata. Tapi yang keluar dari mulutnya, hanya,
"Ya Allah saksikanlah. Ya Allah saksikanlah."
Mungkin bisa diartikan: saksikanlah ya Allah, kami patuh. mereka bahkan bisa berbahagia untuk hal seperih itu.
*suara bapak menjadi serak*

Menyaksikan anak dan keluarga menderita itu berat. Dan Rasulullah harus menyaksikan hal tersebut seumur hidupnya, demi sebuah standar suri tauladan manusia.

S: Sama seperti kisah Rasulullah harus bersabar tidak memberikan Fatimah pembantu ya, padahal tangannya udah terluka karena menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan rumah?

B: *mengangguk*

S: *diam, sedikit mengerti bagaimana perasaan orangtua yang selalu ingin yang mudah dan terbaik untuk anak-anaknya.*



-----------------

Ya Allah, semoga Engkau mengampuni hamba dan pertanyaan-pertanyaan hamba.

Segala salah datangnya dari saya, yang benar dari Allah.
wallahu a'lam bishawab.

Monday, March 12, 2018

WWL Jang Gen (2)

Dear gadis, siapapun engkau yang kan jadi pendamping anak lelakiku kelak.
Dengarkan ceritaku.
.
Hari ini, adalah hari kedelapan belas pria kecil ini belajar melepaskan diri dariku. Kau tidak akan mendengar tangisannya, yang pecah siang malam, juga di sela-sela nyenyak dan remukku. Kau tidak di sini ketika ia bertahan puluhan menit memperjuangkan yang menurutnya haknya. Ia yang akhirnya tertidur untuk usaha yang terkubur.
.
Ia bukan tidak mengerti. Ia paham apa yang hilang dan harus berakhir. 
Ia juga bukan keras kepala.
Ia hanya mencari tahu apa yang salah 
dari pengetahuan seumur hidupnya.
Ia bukan tidak patuh. 
Ia hanya ingin menemukan dengan caranya.
.
.
Laki-laki ini, adalah pejuang. Apakah kau tahu itu? Tapi, jangan kau tuntut ia hal yang melampauinya.
Laki-laki ini tidak mudah menyerah. Tapi kutahu ia akan membutuhkanmu tuk menaruh lelah.
.

Suatu saat, 
jika kau dengannya menghadapi hari seperti ini. Ketika semua yang ia mengerti ternyata salah, yang ia perjuangkan ditolak dunia, dan yang ia inginkan tak bisa didapatkan. Kuharap kau memeluknya, dan memberitahunya. Seberat apapun itu, untukmu dan dirinya, kalian akan menghadapinya bersama. Bersama, menangis dan merasa sakit. Biarkan ia mendengar lukamu, dan kau menatap lukanya. Temani ia, menyempurnakan takdirNya.
.
Kau harus tahu. Ada yang selalu mencintainya, Aku.

#parenthood 
#parenting 
#weaningwithlove 

#storytellingibun

Wednesday, February 28, 2018

WWL Jang Gen (1)

Aku tak akan melarangmu menangis. Menangislah. Tapi kau harus tahu, hatiku teriris.
.
Aku takkan melarangmu untuk marah. Marahlah. Tapi kau harus tahu, isakku membuncah.
.
Aku takkan melarangmu kesal padaku. Menjauhlah. Tapi kau harus tahu, seluruh aku tetap mencintaimu.
.
it hurts.


Tuesday, February 20, 2018

Surat Untuk Diri (2)

Mereka bilang, kau jelek. Hitam, pendek, dan kurus.
Mereka bilang, kau menyebalkan. Jutek, judes, dan galak. 
Bahkan mereka bercanda, kau adalah anak angkat.
.
Lewati masa puber, masuki masa kuliah, dan kau masih tidak mengerti. Kenapa mereka bicara seperti itu?
.
Mereka bilang kau pintar, tapi terlalu serius.
Mereka bilang kau keren, tapi sombong.
Mereka bilang kau peduli, tapi cengeng.
.
Lewati semua masa, dan kau semakin percaya. You are not worth it.
.
Kau kira mereka mendengar tangisanmu?
Kau kira mereka terjaga dalam pergulatan mimpi burukmu?
Kau kira mereka meraba retak di hatimu?
.
Monster itu milikmu. Dan kau heran, kenapa tak pernah bisa mengalahkannya?
.
Lepaskan tutup matamu, bukalah.
Turunkan tangan dari telingamu, bukalah.
.
Sudahkah lebih jelas?
.
Mereka berbicara tentang dirinya, bukan tentangmu. 
Ya, bicara pada apa yang ada di dirimu. 
Mungkin karena kau cermin yang mereka sembunyikan.
.
Untuk semua usahamu merobek diri,
Untuk semua perjuanganmu menambal diri,
Untuk semua bahagiamu menghiasnya,
Bersyukurlah.
.
You are worth it.
.
#SuratUntukFebruari2018
#EagerAdventure

#PecanduBuku
https://instagram.com/p/BfDJh77BxGe/